Blog Image

Blog

#WriteFromHome - Gacil; Don't be Stressed!

April 3, 2020
#WriteFromHome - Gacil; Don't be Stressed! image

Di tengah pandemic Covid-19 yang sudah terjadi hampir 2 bulan di Indonesia, dan dengan kenaikan angka yang signifikan setiap harinya ini tentu membuat kita merasa panik, stress, dan ketakutan. Mau kemana-mana takut, melakukan sesuatu takut, bertemu orang juga takut. Dan ini sudah lebih dari 2 minggu setelah pemerintah meminta kita untuk tidak keluar rumah dan #dirumahaja untuk melakukan social distancing dalam rangka menekan penyebaran virus covid-19.

Kita yang sebelumnya begitu aktif dalam melakukan aktifitas sehari-hari, dari mulai bangun tidur kita langsung cek HP, tanpa membersihkan tempat tidur, langsung saja beranjak ke kamar mandi untuk mandi, bersiap-siap dan lalu berangkat ke kantor. Setelah itu, kita bertemu client di beberap tempat yang berbeda. Selepas kerja, kita menongkrong di café ataupun coffee shop kesayangan untuk berkumpul bersama teman-teman, dan baru bisa pulang kerumah setelah langit sudah betul-betul gelap. Belum berhenti sampai disitu, biasanya sesampai dirumah kita bisa langsung memeluk sanak keluarga kita dan langsung bercanda tawa sebelum akhirnya masuk ke kamar untuk membersihkan diri yang mungkin kadang dilakukan atau kadang juga tidak, bila sudah tanggung lelah karena saat merebahkan diri di kasur kita kerap ketiduran.

Namun, self quarantine ini membuat kita langsung memutar role kehidupan kita 180 derajat.

Bangun tidur kita langsung membersihkan tempat tidur, sebelum akhirnya kita mandi dan bersih-bersih yang sebersih-bersihnya. Setelah rapih, kita lalu pergi ke ruang makan untuk sarapan bersama keluarga dan kembali ke dalam kamar, tepatnya menuju meja kerja untuk membuka laptop dan memulai online meeting bersama kerabat, client, juga atasan. Waktu demi waktu sudah ditempuh, pekerjaan pun sudah selesai. Mulai kembali ke atas kasur untuk buka Instagram, Youtube dan Twitter sebelum akhirnya bosan dan mulai melangkah mengambil laptop untuk dibawa ke atas kasur dan memulai seluruh series yang perlu diselesaikan, hingga akhirnya hari telah larut, dan tertidur. Semuanya berulang dengan ritme yang sama, sampai akhirnya series anda habis di hari ke 3 dan anda merasakan bosan yang amat sangat. Rindu yang juga teramat terhadap rekan-rekan anda. Atau bahkan kepada sang kekasih? Ya, saya pun merasakan yang anda rasakan. Ah, tidak. Lebih tepatnya, semua orang yang hidup di bumi ini merasakan apa yang kita rasakan. We are in this together.

Tidak sedikit dari rekan saya yang mengeluhkan tentang kebosanan yang mereka rasakan. Namun kita semua tahu bahwa ini demi kebaikan kita dan orang banyak. Apalah gunanya kita stay at home, stay hygiene, stay heathly dengan menjaga kebersihan sekitar, mencuci tangan, dan lain sebagainya bila kita tidak menjaga pemikiran kita dengan jernih?

Banyaknya berita yang mondar-mandir dihadapan layer handphone ataupun komputer kita tentang perkembangan dan penyebaran virus ini dengan hari ke hari yang semakin bertambah angka kasusnya, membuat kita merasa jengah, takut, kesal dan akhirnya stress. Tapi kita juga merasa tidak memiliki daya untuk melakukan apapun selain diam dirumah sambil menimbun semua emosi negatif diatas dan automatically menambah tingkat stress.

Well, that’s normal. Tapi yang tidak normal itu kalau kita selalu dan bahkan berlarut-larut dalam emosi negatif tersebut.

Semua itu lambat laun akan mempengaruhi mental kita (; membuat kita jadi merasa insecure, overthingking, resah, panik dan kesulitan memutuskan sesuatu). Namun bukan hanya mental, tapi stress juga akan mempengaruhi fisik kita. Banyak sekali penelitian yang dilakukan terhadap betapa berdampaknya rasa stress terhadap tubuh manusia yang dapat anda temukan dengan mudah di Google.

Sederhananya seperti ini, bila kita stress terus menerus, sistem kerja tubuh kita akan berkali-kali lipat lebih besar dari biasanya. Ada satu hormon stress yang sangat amat jarang dikeluarkan oleh tubuh karena bila hormon ini keluar, secara otomatis imun tubuh kita akan menurun, dan hormon ini adalah hormon kortisol. Nah, bila sistem imun tubuh kita menurun, anda pun tahu bahwa dampaknya adalah tubuh kita akan mudah terserang penyakit.

Jadi, intinya adalah some things are up to us, and some things are not up to us, yang 'up to us' itu hanyalah respon dan perspektif kita dalam menghadapi sesuatu, dan yang 'not up to us' itu adalah hal yang semua terjadi selama kita hidup. Dan kita bisa milih, mau seperti apa kita merespon segala pandemi yang terjadi ini? Mau dengan full of stress kah? Atau mau mindful aja? It’s up to us.

____

That’s all from me and don’t forget to check my podcast on Ruang 008 at Spotify, karena ada episode baru yang membahas tentang Covid-19 / Corona Virus dan beberapa hal relate yang ada di tulisan ini dengan rekan saya, Junna Aditya.

Stay healthy, everyone!


Journal #WriteFromHome ini ditulis oleh Gacil.

#WriteFromHome ini dibuat agar menjadi sebuah cerita perjalanan Banye Studio dan teman-teman lainnya saat menghadapi pandemi Covid-19 agar kelak ketika bumi dan seisinya berjalan kembali seperti biasa, kita dapat mengingat hari-hari ini, sehingga kita dapat lebih menghargai dan mawas akan segala yang dijalani.

Kamu pun bisa menyimpan journal-mu disini dan mendapatkan kado kecil berupa Drawstring Pouch dari Banye Studio dengan mengirimkan cerita perjalanan kamu selama pandemi Covid-19 ke contact@banyestudio.com atau hubungi kami di Line Official @banyestudio atau Whatsapp 081224008223

Untuk melihat koleksi pakaian dari Banye Studio, sila klik disini.



Salam hangat,

Banye Studio.